Minggu, 14 Juli 2013

Pertemuan di Kala Hujan



Aku menemukannya dalam derasnya hujan, saat beberapa orang yang lalu lalang dengan membawa payung ditangan mereka masing-masing tanpa mempedulikan ragaku yang basah kuyup. Selangkah dua langkah hingga langkah yang kesembilan bundar payung yang ia pegang telah meneduhkanku dari dinginnya hujan.
Tak begitu jelas wajahnya, wajahnya kabur oleh kabut dan gumpalan air mata yang masih menganak di mataku, hanya satu yang bisa kulihat jelas kerudung putihnya yang lebar, sekilas tercium parfum aroma buah yang lembut dihidungku, tangan hangatnya telah membawaku ke rumah yang sekarang telah menjadikan aku terasa menjadi manusia sebenarnya, sepuluh tahun menjelma menjadi beradalan jalanan dalam gelimang dosa dan kehampaan batin, hingga cahaya kecil itu lambat laun hadir dalam kasih sayang seorang gadis yang kupanggil Uni itu.
Namun pengantar cahaya itu kini terletak lunglai tiada tenaga, karena sakit parah yang ia derita, hanya senyuman manis dari wajah oval dengan lesung pipit di kedua pipinya yang terus terulas diwajahnya, senyuman yang ia tebar dalam sakitnya, bagaimanapun resah itu masih tetap ada, takut kehilangan uni, takut uni pergi jauh.
“Ran, kenapa menatap uni seperti itu? Uni benar benar tidak apa” senyuman uni kembali meluluhkan kecemasanku.
“ah, tidak Uni, Ran Cuma ingat pertama kali kita bertemu, kalau tidak karena Uni, Ran mungkin akan terus menjadi manusia yang tersesat di ruang hitam tanpa cahayaNya” kupegang tangan Uni yang sedikit dingin .
“Uni senang, jika pertemuan kita saat itu adalah sebuah Hidayah untuk Ran, Uni sudah menganggap Ran bagai adik Uni sendiri”
“terima kasih Uni”
“Ran, Pertahankan semuanya… istiqomahlah… uni ingin Ran menjadi wanita sholeh, paling kurang untuk diri Ran sendiri”
Aku mengannguk, aliran hangat telah menyentuh kerongkonganku, panas hingga mengeluarkan air mata, kupegang erat tangan Uni hingga tak sadar tangisanku meledak dihadapannya, hujan deras diluar sana, menostalgiakan awal pertemuan dengan uni, tangan lembut uni membelai kepalaku, sentuhan sayangnya membuatku tertidur, entah berapa lama aku tertidur dan membiarkan uni pergi, pergi dalam dalam dekapan tangannya yang telah dingin, tangan hangatku memegang erat tangannya yang dingin, seperi  pertama kali aku bertemu dengannya.. tangan hangat yang memegang erat tangan ku yang dingin.. uni benar telah pergi menghadapNya,
“Ya Robb tempatkanlah ia ditempat terindah disisiMU, tempat yang hangat oleh cinta kasihMu sebagaimana ia memberikanku tempat yang hangat penuh cinta yang telah membawaku mengenalMU..Amiin”

Diluar hujan masih deras, tanpa payung,  kutelusuri jalanan tempat pertama kali aku bertemu dengan Uni,  diantara lalu lalang pejalan kali yang memandangku heran. Hujan menyembunyikan air mataku, hujan kuharap kau pertemukan lagi aku dengan Uni,memayungiku, memegang erat tanganku… walau hanya bayanganya…^^

Cahaya Kecil, 14 Juli 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...