Kamis, 01 November 2012

Daging Kurban




Seusai sarapan pagi ijal adikku berumur enam tahun sudah sibuk membantu bapak membawakan beberapa karung rumput ke masjid, sengaja disisihkan karung kecil agar ijal bisa membawanya, rumput-rumput itu untuk makan sapi yang akan disembelih pada hari raya haji yang tinggal beberapa  hari lagi. Ijal sangat senang, senang hari raya haji akan segera datang, ia ingin makan daging, dibuatkan rendang pintanya kepada ibu. Memang hari raya haji adalah saat yang membahagiakan bagi keluarga kami, bahagia bisa makan enak dengan daging sapi, kami memang hanya makan daging sapi setiap hari raya idul fitri atau idul adha. Daging adalah makanan mewah bagi kami, harganya mahal bagi kantong bapak  yang kerja serabutan dengan upah yang tidak menentu. Bapak dipercaya pengurus masjid untuk merawat sapi-sapi itu, memberi makan dan membersihkan kandang yang dibuat di belakang masjid, ijal adalah yang paling setia membantu bapak.
            Setiap pagi dan sore ijal terus mengunjungi kandang sapi-sapi itu, selain untuk memberi makan ia juga mengajak teman-teman kecilnya bermain-main dekat kandang, ia selalu cekikikan ketika sapi sapi itu mengelurkan suara khasnya, dan marah kalau ada anak-anak usil mengganggu sapi-sapi itu dengan menjulurkan batang bambu keperut sang sapi, hampir dia berkelahi karena anak-anak usil sengaja mengganggu si sapi, untung bapak ada disana saat itu.
            “buk, bisa kan masak rendang?” tanya ijal saat makan malam, “bisa dong jal” jawab ibu. Ijal termenung “koq nasinya dipandangi aja jal, makan gih” ibu menyodorkan piring kedekat ijal.”ijal mau makan rendang buk, bosan ijal makan ikan kering terus” ibu memandangi bapak yang suapnya terhenti karena mendengar perkataan ijal, akupun juga ikut berhenti. Bapak tersenyum dan memeluk anak laki-laki kecilnya itu “sabar ijal, sebentar lagi hari raya haji, kita akan buat rendang yang banyak” kata ayah sembari mengusap kepala anaknya itu. “iya pak, ijal gak mau makan sekarang, nanti aja makannya dipuas-puasin kalo udah ada rendang” kata ijal dengan semangat, ia tampak tak sabar untuk makan rendang. “tapi kalau ijal tidak makan, nanti sakit” kata ibu. Ijal tetap tidak mau makan, ia mengambil mainan robot-robot yang telah hilang kakinya sebelah, di main-mainkan diudara, seolah-olah robot itu sedang terbang.
***
            Subuh hari bapak pergi ke masjid, ijal juga terbangun karena terdengar bapak akan pergi ke masjid, segera ia cuci mukanya dan mengikuti bapak ke masjid, sholat jamaah selesai di masjid saat semua orang berdoa, ijal langsung pergi kebelakang masjid, memperhatikan  sapi-sapi itu satu persatu, tiba-tiba bapak datang memanggil ijal mengajak pulang “ijal, pulang nak” kata bapak “pak besok, sembelih  sapi yang paling ujung itu ya pak, sapinya gede bisa buat rendang banyak pak” kata rijal sambil menunjuk-nunjuk sapi yang menurutnya paling besar, bapak tersenyum, ijal pikir hari raya qurban nanti akan dapat daging  seekor sapi itu.
            Sudah dua hari ijal tidak mau makan, ia selalu minta ingin makan rendang, makannya Cuma sedikit, tiap hari ia bermain di kandang sapi sapi itu, memamerkan kepada temannya kalau sapi yang paling besar itu adalah sapi untuknya, sapi yang akan direndang ibu nanti.
            “buuuk, rendang… mau makan rendang” ijal mengigau dalam tidurnya. Ibuk yang tidur disamping ijal terbangun, keringat dingin mengalir di tubuh ijal, badannya panas, ijal menangis, bapak juga terbangun dan segera mengambil air hangat kuku untuk mengopres ijal, aku mengambilkan minum untuk ijal. “buuk, ijal mau makan rendang” sambil tersedu sedu. “iya besok ijal makan rendang ya” jawab ibu sembari megusap kening anaknya kemudian dipangku dipelukannya, tidak lama kemudian ijal kembali tertidur.
            Subuh hari biasanya ayah pergi ke masjid untuk sholat subuh dimasjid, kali ini ijal tidak ikut, ijal masih tertidur, panasnya masih tinggi, ibuk setia mendapingi disisi. “buk, sebaiknya kita bawa ijal ke bidan” kataku pada ibuk, “bagaimana uangnya sah, ibuk tidak punya uang” jawab ibuk dengan wajah sendu. Aku melipat kedua kakiku rapat kedada, memandangi ijal, hari ini hari raya haji, hari yang ditunggu tunggu ijal. Kumandang takbir telah terdengar berkumandang, bergema menggetarkan hati. Ijal terbangun ia tersenyum mendengarkan takbir, tapi kemudaian ia muntah-muntah, ibu mengambil ember kecil agar ijal muntah didalamnya kemudian menggosok-gosok punggung ijal. Setelah muntah ijal tampak lemas, dia menangis lagi, ibu memeluk erat ijal.
            Jam delapan pagi, semua orang sudah bergegas pergi ke masjid untuk sholat idul adha, ibuk tidak pergi karena mengurusi ijal yang sakit dirumah, terpaksa aku pergi sendiri, setelah selesai sholat idul adha, saatnya sapi-sapi itu disembelih, aku turut melihat proses penyembelihan itu, bapak adalah salah satu tukang penyembelih kurban. Banyak anak-anak yang menyaksikannya, aku jadi teringat ijal, hari ini ia akan makan enak, makan rendang.
            Akhirnya setelah menunggu lama aku dan bapak mendapatkan daging kurban sekantong daging kurban, kira-kira dua kilo, dengan senang hati bapak membawa daging-daging itu pulang, untuk ijal, untuk kami yang sudah lama tidak makan daging. Sesampai dirumah kami dapati ijal masih tergolek lemas dikasurnya. Ibu membelai belai rambut ijal. Panas ijal bertambah tinggi, wajahnya memerah, peluhnya mengalir.”pak kita bawa saja ke bidan, demamnya sudah tinggi sekali” kata ibuk. Bapak terdiam, wajahnya berubah sedih “buk, masih adakah uang kita yang ibuk simpan?” tanya bapak, ibu menggeleng lemas.
            Bapak mendekat kearah ijal dan mengusap kening anaknya itu, bapak benar-benar sedih. Kemudian pergi keluar membawa kantong daging kurban tadi. Sejam kemudian bapak datang, ia bopong ijal di punggungnya “pak mau kemana?”tanya ibuk “kita kebidan buk” tanpa banyak tanya ibuk mengikuti bapak, “kau jaga rumah isah” kata bapak. Aku hanya mengangguk patuh. Beruntung ada bidan buka praktek hari itu, “anaknya makan teratur buk?”tanya bidan itu kepada ibuk, “beberapa hari ini ia jarang makan buk bidan” jawab ibu, kemudian ibuk bidan hanya mengangguk-angguk kemudian memberikan resep serta tarif berobat. Bapak segera membayar obat-obat itu kepada bidan. “pak darimana dapat uang itu”tanya ibu “maafkan bapak buk, daging kurbannya bapak jual untuk berobat ijal” ibu terdiam, dalam hati ia juga merasakan kecewa dan kasihan kepada ijial, anak itu sudah sangat berharap hari raya haji bisa makan rendang, tapi bagaimana lagi.
            Pagi hari esoknya keadaan ijal sudah membaik, panasnya telah turun, subuh hari ia telah bangun seperti biasanya. Wajahnya mulai tampak berseri lagi, didapur ibu sedang menghembus lesung, bapak sedang mengangkat air dari sumur, ijal mendekat dan berkata “buk, ijal lapar, mau makan rendang”. Dengan mata yang bekaca dan tanpa bapak sadari air sumur yang dia angkut terjatuh dan berlari memeluk ijal. Entah apa yang harus dikatakan pada ijal, anak laki-laki polos itu memandangi bapaknya heran.
           
Padang, 14 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...